Cimahi, Jawa Barat – Setelah larangan kegiatan study tour keluar kota yang disampaikan oleh Anggota DPR RI Dedi Mulyadi, sejumlah sekolah di Kota Cimahi memilih jalan alternatif yang tak kalah menarik dan edukatif: walking tour alias wisata jalan kaki di lingkungan kota sendiri.
Larangan tersebut muncul sebagai bentuk keprihatinan terhadap kejadian kecelakaan bus pariwisata yang menimpa rombongan pelajar beberapa waktu lalu. Menanggapi hal itu, banyak sekolah mengambil langkah adaptif—alih-alih melakukan perjalanan jarak jauh, mereka menggali potensi lokal untuk memperkaya pengalaman belajar siswa.
Salah satunya dilakukan oleh SMPN 5 Cimahi, yang menggelar program walking tour bertajuk “Mengenal Kotaku, Mencintai Budayaku”.
“Kami tidak ingin kehilangan nilai dari kegiatan luar kelas. Maka kami rancang kegiatan walking tour yang tak kalah menyenangkan, lebih hemat, dan justru lebih dekat dengan keseharian anak-anak,” kata Kepala Sekolah SMPN 5 Cimahi, Erna Puspitasari.
Belajar Sejarah dan Budaya Lewat Jalan Kaki
Walking tour ini mengajak para siswa menyusuri sejumlah titik bersejarah dan penting di Kota Cimahi, seperti Kompleks Pusat Pendidikan Artileri, Gedung Cimahi Technopark, Monumen Cimahi Tempo Doeloe, serta mengunjungi kampung-kampung tematik yang menjadi ikon kearifan lokal.
Di setiap titik, para siswa dibagi ke dalam kelompok kecil dan mendapatkan penjelasan langsung dari pemandu lokal, termasuk para guru yang telah dibekali materi sejarah dan budaya setempat. Tidak hanya itu, mereka juga melakukan aktivitas seperti wawancara warga, membuat catatan perjalanan, dan menyusun kliping foto yang akan dipresentasikan di kelas.
“Ternyata banyak tempat bersejarah di Cimahi yang kami belum tahu. Rasanya seperti wisata, tapi sambil belajar. Seru!” ujar Rafif, siswa kelas 8.
Lebih Aman dan Murah, Orang Tua Mendukung
Salah satu kekhawatiran utama orang tua terhadap kegiatan study tour tradisional adalah risiko kecelakaan di perjalanan jauh serta biaya mahal yang kadang jadi beban.
Walking tour justru dianggap sebagai solusi ideal. Biaya yang diperlukan sangat terjangkau—cukup untuk konsumsi dan cetak dokumentasi. Tak ada risiko lalu lintas jalan tol atau bus mogok di tengah jalan. Orang tua pun bisa lebih tenang.
“Kami sangat setuju dengan walking tour ini. Selain aman, anak-anak juga bisa lebih mengenal lingkungan sekitar. Kadang kita terlalu sibuk ke luar kota, padahal belum tentu kenal sejarah daerah sendiri,” ujar Ibu Dina, salah satu wali murid.

Baca juga: Kisah Fikri dan Risma Tumbuh Mandiri di Sekolah Rakyat Cimahi
Belajar Kontekstual dan Interaktif
Selain sekadar mengganti lokasi, konsep walking tour ini juga membawa pendekatan pembelajaran yang lebih kontekstual dan interaktif. Tidak hanya mengamati, para siswa juga diajak berdiskusi tentang isu lingkungan, peran sosial masyarakat, hingga dampak pembangunan kota terhadap sejarah.
Para guru menyebut bahwa metode ini lebih bermakna dibandingkan sekadar duduk di bus dan selfie di lokasi wisata.
“Walking tour membuat anak-anak berpikir, berdialog, dan mencatat. Mereka menjadi bagian dari cerita yang mereka pelajari,” kata guru IPS, Bapak Yudi Maulana.
Kota Sebagai Ruang Belajar
Apa yang dilakukan oleh sekolah-sekolah di Cimahi mencerminkan pendekatan baru dalam pendidikan, yakni menjadikan kota sebagai ruang belajar terbuka. Tidak selalu harus bepergian jauh untuk mendapatkan pengalaman, justru melalui pengamatan langsung terhadap lingkungan sendiri, siswa bisa belajar lebih dalam tentang jati diri kotanya.
Dinas Pendidikan Kota Cimahi bahkan menyatakan akan mendorong program serupa diterapkan secara luas di semua sekolah.
“Kami akan membuat panduan walking tour edukatif agar bisa diadopsi semua satuan pendidikan. Ini menjadi langkah nyata mewujudkan pendidikan yang aman, murah, dan tetap bermutu,” ujar Kepala Dinas Pendidikan Cimahi, Drs. H. Sumarna.
Penutup: Wisata Edukatif, Cinta Daerah Sendiri
Walking tour menjadi solusi yang bukan hanya aman dan murah, tetapi juga mendekatkan siswa dengan identitas dan sejarah daerah mereka sendiri.
Langkah ini mungkin sederhana, namun dampaknya dalam membentuk kecintaan terhadap daerah, pemahaman sosial, dan tanggung jawab lingkungan bisa menjadi bekal penting bagi generasi muda ke depan.







